Apa yang kita beri, bukan yang kita dapatkan

"Ketika masih kecil", kata Syaikh Abdul Karim Bakkar menasihati,
"Kita menganggap ukuran bahagia ada dalam mendapatkan, namun seiring bertambah dewasa, kita akan sadar bahwa kebahagiaan sejati didapat dalam memberi."

Suatu saat kita akan berlalu, dimakan waktu, dilerai oleh batas bernama mati, dan usia kita hanya setitik kecil di sungai zaman ini akan menjelma kenangan. Yang entah barangkali diingat satu dua tahun, atau abadi dalam sejarah.
Tergantung apa takdir yang kamu pilih saat ini.

Namun satu hal nyata yang menampar pikiranku, adalah tentang betapa banyaknya logika-logika hidup yang diyakini benar oleh sebagian besar manusia, padahal sejatinya ia berkebalikan dengan cara kerja kebahagiaan.

Kita dulu menganggap bahwa memiliki kebebasan tanpa batas adalah kebahagiaan, sampai kamu sadar pada titik bahwa ternyata bebas tanpa aturan sama sekali tidak ada artinya.
Kita mengangguk-angguk bahwa kekayaan adalah parameter kesuksesan, diiringi dengan karir yang melonjak dan nama yang riuh diteriakkan orang-orang.
Aku jamin, jika sudah sampai di titik itu, kamu akan tahu ternyata banyak orang yang sudah sampai di sana tapi tidak menemukan apa-apa.

Bahkan sebenarnya jika kita pikirkan baik-baik, ketika suatu masa nanti kita meninggalkan dunia ini, orang-orang tak akan banyak berpikir tentang apa yang sudah kita dapatkan.
Mereka justru punya alasan untuk mengenang kita karena apa yang kita berikan.

Itulah mengapa yang diabadikan dunia adalah para Ulama dan orang-orang yang berkhidmat pada agama serta umatnya. Tidak ada kenangan jelas tentang daftar orang kaya dalam Al-Quran, yang ada adalah deretan para Nabi dan Rasul dengan sederet kisah menakjubkan tentangnya.

Sebab begitulah sebenarnya cara kebahagiaan didapat, yang sejati, adalah pada apa yang bisa kamu berikan, bukan tentang apa yang sudah kamu dapatkan. Dan lagi-lagi, Allah sudah tahu apa yang akan manusia lakukan, "tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serendipity

Dalam Penantian