Postingan

Relationship is hardwork

 I even came across this very thought once: love is a waste of time. (Let’s have you on the same page as I am, I’m not talking about love in friendship or in family, so if you know what I mean, hop on the boat and continue reading). But eventually, I realized that it was too harsh of a thought.     Though as time goes by, I slowly start to pick up the scattered concept of “love” and “relationship” and begin to comprehend that thought it’s not necessarily a waste of time, it is serious, though, hard work. No kidding.     We put time and energy and effort to love, to relationships; we try to maintain good-everything (you name it), we appreciate and we trust and we watch for other’s heart and feelings, we make sacrifices, hell in the same cases we even give up things, when at the same time we have our owns lives to live. We have our own goals and dreams to pursue. We have our own wants and needs; we have our own ideas and wills; we have the whole w...

Dalam Penantian

Ibunda Hajar, adalah contoh wanita menyejarah yang membuat cinta menjadi energi; untuk melakukan hal-hal besar.  Dalam keabadian kisah sucinya di lembaran Al Quran, kita melihat pelajaran berharga darinya; menanti itu tak berarti selalunya berduka. Justru, penantian dan kerinduannya pada Ibrahim sang kekasih, dalam rangkaian kisah Ibunda Hajar, adalah masa untuk membangun sebuah karya agung yang sampai kini jadi primadona semiliar muslim sepanjang zaman; kota Makkah yang legendaris. “dan bahwa manusia akan memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS An Najm 39) Lalu, diberikan-Nya jawaban yang berkali lipat dari yang kau pinta. Bisa jadi pula, inilah satu makna tambahan yang terpancar dari rangkaian nasihat. Life is never flat, hidup tidak datar-datar saja. Semuanya adalah wasilah penghambaan yang menuntun kita perlahan-lahan menuju pertemuan dengan-Nya. Untuk kamu yang sedang dalam penantian, ini kuncinya; yang terpenting dalam menanti adalah, kamu tahu betul apa ...

Apa yang kita beri, bukan yang kita dapatkan

"Ketika masih kecil", kata Syaikh Abdul Karim Bakkar menasihati, "Kita menganggap ukuran bahagia ada dalam mendapatkan, namun seiring bertambah dewasa, kita akan sadar bahwa kebahagiaan sejati didapat dalam memberi." Suatu saat kita akan berlalu, dimakan waktu, dilerai oleh batas bernama mati, dan usia kita hanya setitik kecil di sungai zaman ini akan menjelma kenangan. Yang entah barangkali diingat satu dua tahun, atau abadi dalam sejarah. Tergantung apa takdir yang kamu pilih saat ini. Namun satu hal nyata yang menampar pikiranku, adalah tentang betapa banyaknya logika-logika hidup yang diyakini benar oleh sebagian besar manusia, padahal sejatinya ia berkebalikan dengan cara kerja kebahagiaan. Kita dulu menganggap bahwa memiliki kebebasan tanpa batas adalah kebahagiaan, sampai kamu sadar pada titik bahwa ternyata bebas tanpa aturan sama sekali tidak ada artinya. Kita mengangguk-angguk bahwa kekayaan adalah parameter kesuksesan, diiringi dengan karir yang ...

Serendipity

mimpi-mimpi berubah dan kita berpisah; menapaki jalan dua arah yang berbeda ini cara menyerah paling manis, katamu. ini cara mengalah dalam tangis, kataku. satu...dua...tiga... bisakah kau hitung berapa hari yang sia-sia; karena kita selalu menampik segala rasa? mengenal lagi menjalani melepaskan dan berulang Rumusnya sederhana, bukan? hingga pada akhirnya; terus membiarkan diri tersesat di titik nol kosong enggan beranjak satu agar tergenapi Lalu di suatu waktu, aku sakit mati rasa.